Pembantu Naik Gaji

8:51 AM by BeBeTe

Akhirnya yang ditunggu-tunggu PRT datang juga. Pemerintah sedang menggodok RUU PRT yang tujuannya untuk melindungi pembantu.
Pembantu merupakan orang yang sangat berjasa bagi sebagian orang karena meringankan beban pekerjaan rumah.


Forward dari Yuki ini menggelitik untuk dikomentari, karena keberadaan pembantu yang menurut para penggunanya sangat membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, sementara mereka bekerja untuk mencari sesuap nasi.

Pernah menjadi perdebatan sengir dilingkungan kerjaku, karena banyak ibu-ibu yang bekerja, terus menitipkan anak-anak dirumah pada pembantu.
Padahal seandainya mereka tidak bekerja, tentu anak-anak akan mendapat kasih sayang yang lebih banyak dari ibunya, pekerjaan rumah bisa diselesaikan oleh ibunya, tanpa menyewa jasa pembantu.

Aku gak mau berkomentar lebih jauh msalah pembantu ini, karena cukup sensitif.
Cuma sedikit ungkapan, yakinlah rejeki sudah ada yang mengatur meskipun hanya suami sendiri yang bekerja.

Masih berfikir untuk cari pembantu?
Read More..

Posted in | 0 Comments

Rumahku Surgaku

7:58 AM by BeBeTe

Ternyata, kalau kita telaah lebih jauh dan berdasarkan pengalaman pribadi, rumah besar tidak lebih baik dari rumah gecil. Terkadang gubuk lebih indah dari pada istana. Simak kisah berikut.

Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan.
Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?""Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. "Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, "Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih besar. Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"

Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja." (dari berbagai sumber)
Read More..

Posted in | 0 Comments

Siapakah Bung?

11:37 PM by BeBeTe

Tahu gambar dibawah ini?
Gak ada hubungan apa-apa sama orang dibawah ini. Cuma kenal lewat buku sejarah waktu pernah sekolah dulu.


Benar, belaiu adalah Bung Tomo, sang pejuang kemerdekaan dari Surabaya. Yang terkenal dengan seruannya untuk bangkit berjuang melawan penjajah Belanda.

Saat itu, lewat radio Bung Tomo menerukan panggilan pada rakyat Surabaya untuk bangkit "Merdeka atau mati".

Saat ini perkembangan komunikasi mengalami transformasi yang sangat signifikan dengan adanya internet. Dulu radio, dilanjutkan dengan televisi.... generasi sekarang dilanjutkan oleh internet.

Bung Tomo dengan menggunakan radio bisa menyerukan untuk berjuang.
Saatnya kita berjuang menggunakan internet supaya lebih mencintai bangsa ini. Memperkenalkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bisa memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa, tidak melulu menjadi bangsa penikmat teknologi.
Kita berharap kita menjadi bangsa pencipta teknologi.
Mampukah?
Read More..

Posted in | 0 Comments